Teori Relativitas Einstein adalah teori yang
sangat terkenal, tetapi sangat sedikit yang kita pahami. Utamanya, teori
relativitas ini merujuk pada dua elemen berbeda yang bersatu ke dalam sebuah
teori yang sama: relativitas umum dan relativitas khusus.
Theori relativtas khusus telah diperkenalkan
dulu, dan kemudian berdasar atas kasus-kasus yang lebih luas diperkenalkan
teori relativitas umum.
Konsep teori relativitas
Teori relativitas khusus Einstein-tingkah
laku benda yang terlokalisasi dalam kerangka acuan inersia, umumnya hanya
berlaku pada kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya.
Transforasi Lorentz-persamaan transformasi
yang digunakan untuk menghitung perubahan koordinat benda pada kasus
relativitas khusus.
Teori relativitas umum Einstein-Teori yang
lebih luas, dengan memasukkan graviti sebagai fenomena geometris dalam sistem
koordinat ruang dan waktu yang melengkung, juga dimasukkan kerangka acuan non
inersia (misalnya, percepatan).
Prinsip relativitas fundamental.
Apakah relativitas itu?
Relativitas klasik (yang diperkenalkan
pertama kali oleh Galileo Galilei dan didefinisikan ulang oleh Sir Isaac
Newton) mencakup transformasi sederhana diantara benda yang bergerak dan
seorang pengamat pada kerangka acuan lain yang diam (inersia). Jika kamu
berjalan di dalam sebuah kereta yang bergerak, dan seseorang yang diam diatas
tanah (di luar kereta) memperhatikanmu, kecepatanmu relatif terhadap pengamat
adalah total dari kecepatanmu bergerak relatif terhadap kereta dengan kecepatan
kereta relatif terhadap pengamat. Jika kamu berada dalam kerangka acuan diam,
dan kereta (dan seseorang yang duduk dalam kereta) berada dalam kerangka acuan
lain, maka pengamat adalah orang yang duduk dalam kereta tersebut.
Permasalahan dengan relatifitas ini terjadi
ketika diaplikasikan pada cahaya, pada akhir 1800-an, untuk merambatkan
gelombang melalui alam semesta terdapat substansi yang dikenal dengan eter,
yang mempunyai kerangka acuan(sama seperti pada kereta pada contoh di atas).
Eksperimen Michelson-Morley, bagaimanapun juga telah gagal untuk mendeteksi
gerak bumi relatif terhadap eter, dan tak ada seorangpun yang bisa menjelaskan
fenomena ini. Ada sesuatu yang salah dalam interpretasi klasik dari relatifitas
jika diaplikasikan pada cahaya…dan kemudian muncullah pemahaman baru yang lebih
matang setelah Einstein datang untuk menjelaskan fenomena ini.
Pengenalan tentang relativitas khusus
Pada tahun 1905, albert eintein
mempubilkasikan (bersama dengan makalah lainnya) makalah yang berjudul, “On the
Electrodynamics of Moving Bodies” atau dalam bahasa indonesianya kurang lebih
demikian,”Elektrodinamika benda bergerak” dalam jurnal Annalen der physik.
Makalah yang menyajikan teori relativitas khusus, berdasarkan dua postulat
utama:
Postulat Einstein Prinsip relativtas
(pestulat pertama): Hukum-hukum fisika adalah sama untuk setiap kerangka acuan
Prinsip kekonstanan kecepatan cahaya
(postulat kedua): Cahaya dapat merambat dalam vakum (misalnya, ruang vakum,
atau “ruang bebas”), kecepatan cahaya dinotasikan dengan c, yang konstan
terhadap gerak benda yang meiliki radiasi.
sebenarnya, makalah tersebut menyajikan lebih
formal, formulasi matematika dari postulat tersebut. Bentuk dari postulat
mungkin sedikit berbeda dari buku teks yang satu dengan yang lain karena
translasi dari bentuk matematika Jerman dengan bentuk Inggris yang selama ini
sering kita lihat.
Postulat kedua sering ditulis sembarangan
dengan memasukkan bahwa kecepatan cahaya dalam ruang hampa adalah c untuk
setiap kerangka acuan. Sebenarnya postulat ini adalah berasal dari dua
postulat, bukan dari postulat kedua itu sendiri.
Postulat pertama kelihatan lebih masuk akal,
tetapi bagaimanapun juga postulat kedua merupakan revolusi besar dalam ilmu
fisika. Einstein sudah memperkenalkan teori foton cahaya dalam makalahnya pada
efek fotolistrik (yang menghasilkan kesimpulan ketidakperluan eter).Postulat kedua,
adalah sebuah konsekuensi dari foton yang tak bermassa bergerak dengan
kecepatan c pada ruang hampa. Eter tidak lagi memiliki peran khusus sebagai
kerangka acuan inersia “mutlak” alam semesta, jadi bukan hanya tidak perlu,
tetapi juga secara kualitatif tidak berguna di dalam relativitas khusus. Adapun
makalah tersebut adalah untuk menggabungkan persamaan Maxwell untuk listrik dan
magnet dengan gerak elektron dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Hasil
dari makalah Einstein adalah memperkenalkan transformasi koordinat baru,
dinamakan transformasi Lorentz, antara kerangka acuan inersia. Pada kecepatan
lambat, transformasi ini pada dasarnya identik dengan moel klasik, untuk
kecepetan yang mendekati kecepatan cahaya, menghasilkan nilai yang berbeda secara
radikal.
Efek dari Relativitas Khusus
Relativitas khusus menghasilkan beberapa
konsekuensi dari penggunaan transformasi Lorentz pada kecepatan tinggi
(mendekati kecepatan cahaya). Diantaranya adalah :
Dilatasi waktu (termasuk “paradok kembar”
yang terkenal)
Konstraksi panjang
Transformasi kecepatan
Efek doppler relativistk
Simultanitas dan sinkronisasi waktu
Momentum relativistik
Energi kinetik relativistik
Massa relativistik
Energi total relativistik
Selain itu, manipulasi aljabar sederhana dari
konsep-konsep di atas menghasilkan dua hasil signifikan yang pantas dijelaskan
sendiri.
Hubungan Massa-Energi
Enstein mampu menunjukkan bahwa terdapat
hubungan antara massa dan energi, melalui rumus yang sangat terkenal E=mc2.
Hubungan ini telah dibuktikan dengan peristiwa yang sangat dramatis di dunia,
ketika bom nuklir melepaskan energi dari massa di Hiroshima dan Nagasaki pada
akhir perang dunia kedua.
Kecepatan Cahaya
Tak ada objek bermassa yang dapat bergerak
dipercepat menuju kecepatan cahaya. Hanya objek tak bermassa, seperti foton,
yang dapat bergerak dengan kecepatan cahaya. (foton tidak bergerak dipercepat
menuju kecepatan cahaya, tetapi foton selalu bergerak dengan kecapatan cahaya).
Tetapi bagi objek fisis, kecepatan cahaya
adalah terbatas. Energi kinetik pada kecepatan cahaya menjadi tak terbatas,
jadi tidak pernah dapat dicapai dengan percepatan. Beberapa telah menunjukkan
bahwa sebuah objek secara teori dapat bergerak melebihi kecepatan cahaya,
tetapi sejauh ini tidak ada entitas fisik yang dapat menujukkan itu.
Adopsi Relativitas Khusus
Pada 1908, Max Plank mengaplikasikan bentuk
“teori relativitas” untuk menjelaskan konsep relativitas khusus, karena aturan
kunci dari relativitas memainkan peran dalam konsep tersebut. Pada waktu itu,
tentunya bentuk yang diaplikasikan hanya pada relativitas khusus, karena memang
belum terdapat relativitas umum.
Relativitas Einstein tidak segera diterima
oleh fisikawan secara keseluruhan, karena kelihatan sangat teoretis dan
conterintuitif. Kemudian Einstein menerima penghargaan Nobel pada 1921,
khususnya penyelesaiannya untuk efek fotolistrik dan kontribusinya pada fisika
teori. Tetapi Relativitas masih menjadi kontroversi untuk menjadi referensi
spesifik.
Seiring berjalannya waktu, bagaimanapun juga,
presiksinya terhadap relativitas khusus akhirya menjadi kenyataan. Misalkan,
jam terbang di selruh dunia telah menunjukkan adanya perlambatan dengan durasi
yang diprediksi oleh teori relativitas. Albert Einstein tidak menciptakan
sendiri transformasi koordinat yang dibutuhkan untuk relativitas khusus. Dia
tidak harus melakukannya, karena transformasi yang dibutukan telah ada
sebelumnya. Einstein menjadi seorang yang ahli dalam pekerjaannya yang
terdahulu dan menyesuaikan diri pada situasi yang baru, dan juga dengan
transformasi Lorentz seperti yang telah Planck gunakan pada 1900 untuk
menyelesaikan permasalahan bencana ultraviolet pada radiasi benda hitam,
Einstein merancang solusi untuk efek fotolistrik, dan dengan demikian dia telah
mengembangkan teori foton untuk cahaya.
Asal Mula Transformasi Lorentz
Transformasi Lorentz sebenarnya pertama kali
telah diperkenalkan oleh Joseph Larmor pada 1897. Versi yang sedikit berbeda
telah diperkenalkan pada beberapa dekade sebelumnya oleh Woldemar Voigt, tetapi
versinya memiliki bentuk kuadrat pada persamaan dilatasi waktu.
Tetapi, persamaan dilatasi waktu kedua versi
tersebut dapat ditunjukkan sebagai invarian dalam persamaan Maxwell. Seorang
Matematikawan dan fisikawan Hendrik Antoon Lorentz mengusulkan gagasan “waktu
lokal” untuk menjelaskan relatif simultanitas pada 1895, walaupun dia juga
bekerja secara terpisah pada transformasi yang sama untuk menjelaskan hasil
“nol” pada percobaan Michelson dan Morley. Dia mengenalkan transformasi
koordinatnya pada 1899, dan menambahkan dilatasi waktu pada 1904. Pada 1905, Henri
Poincare memodifikasi formulasi aljabar dan menyumbangkannya kepada Lorentz
dengan nama “Transformasi Lorentz,” formulasi Poincare pada transformasi
tersebut pada dasarnya identik dengan apa yang digunakan Einstein. Transformasi
Lorentz tersebut menggunakan sistem koordinat empat dimensi, yaitu tiga
koordinat ruang (x, y, dan z) dan satu koordinat waktu (t). Koordinat baru
ditandai dengan tanda apostrof diucapkan “abstain,” seperti x’ dibaca
“x-abstain.” Pada contoh dibawah ini, kecepatan adalah dalam arah x’, dengan
besar
u: x’=(x-ut)/v(1-u2/c2 )
y’=y
z’=z
t’={t-(u/c^2 )x}/v(1-u2/c2)
Transformasi tersebut hanya untuk
demonstrasi. Aplikasi dari persamaan tersebut akan ditangani secara terpisah.
Bentuk v((1-u2/c2) sering muncul dalam relativitas sehingga dilambangkan dengan
simbol yunani ? (dibaca gamma) dalam beberapa penyajian.
Perlu diingat bahwa pada kasus u << c
(u jauh lebih kecil dibandingkan c), maka u2/c2 akan menjadi sangat kecil
sehingga di dalam bentuk akar akan menghasilkan nilai satu, maka nilai ? akan
menjadi satu. Oleh karena itu, dilatasi ruang dan waktu menjadi sangat tidak
berpengaruh untuk benda yang bergerak jauh dibawah kecepatan cahaya.
Konsekuensi dari Transformasi Lorentz
Relativitas khusus menghasilkan beberapa
konsekuensi dari penggunaan Transformasi Lorentz pada kecepatan tinggi
(mendekati kecepatan cahaya). Diantaranya adalah :
Dilatasi waktu (termasuk “paradok kembar”
yang terkenal)
Konstraksi panjang
Transformasi kecepatan
Efek doppler relativistk Simultanitas dan sinkronisasi
waktu
Momentum relativistik
Energi kinetik relativistik
Massa relativistik
Energi total relativistik
Kontroversi Lorenz dan Einstein
Beberapa orang mengatakan bahwa sebenarnya
sebagian besar pekerjaan dari relativitas khusus yang telah dikerjakan einstein
telah ada dalam transformasi Lorentz. Konsep dilatasi dan simultanitas untuk
pergerakan benda telah disebutkan dan secara matematis telah dikembangkan oleh
Lorentz dan Poincare. Beberapa orang mengganggap bahwa Einstein adalah seorang
plagiator.
Tentunya terdapat validitas untuk tuduhan
tersebut.Tentu saja, revolusi besar Einstein dibangun berdasarkan
pekerjaan-pekerjaan orang lain, dan Einstein mendapatkan banyak hasil atas apa
yang telah mereka hasilkan secara kasar.
Pada waktu yang sama, tetapi harus
dipertimbankan bahwa Einstein mengambi konsep-konsep dasar ini dan
memebangunnya menjadi sebuah kerangka teori yang menjadikan konsep-konsep
tersebut untuk bukan hanya sekedar trik matematis untuk menyelamatkan dying
teori (teori sekarat) seperti teori eter, melainkan menggunakan aspek-aspek
fundamental alam pada tempatnya. Terdapat ketidakjelasan bahwa Larmor, Lorentz,
atau Poincare yang dimaksudkan agar berani bergerak, namun sejaraha telah
memberikan penghargaan kepada Einstein atas wawasan dan keberainannya.
Pada 1905, Teori Einstein (relativitas
khusus), dia menunujukkan bahwa diantara kerangka acuan inersia tidak terdapat
kerangka acuan “utama.” Perkembangan dari relativitas umum terjadi, sebagian
sebagai upaya untuk menunjukkan bahwa ini benar di antara non-inersia (yaitu
mempercepat) kerangka acuan juga.
Evolusi Relativitas Umum
Pada 1907, Einstein mempublikasikan
artikelnya yang pertama pada Efek gravitasi pada cahaya dibawah relativitas
khusus. Pada makalah tesebut, Einstein menguraikan “prinsip ekuivalensi,” yang
menyatakan bahwa pengamatan pada percobaan di bumi (dengan percepatan gravitasi
g) akan identik dengan pengamatan pada percobaan dalam roket yang bergerak
dengan kecepatan g.
Prinsip ekuivalensi tersebut diformulasikan
sebagai:
we […] assume the complete physical
equivalence of a gravitational field and a corresponding acceleration of the
reference system.
Yang artinya kurang lebih demikian :
Kami […] mengasumsikan kesetaraan fisis
lengkap dari medan gravitasi dan hubungannya dengan percepatan dari sistem
kerangka acuan.
Seperti yang dikatakan Einstein atau pada
buku Fisika Modern:
There is no local experiment that can be done
to distinguish between the effects of a uniform gravitational field in a
nonaccelerating inertial frame and the effects of a uniformly accelerating
(noninertial) reference frame.
Atau dalam bahasa indonesia kurang lebih
demikian :
Tidak ada percobaaan lokal yang dapat
dilakukan untuk membedakan antara efek dari medan gravitasi seragam dalam
kerangka acuan yang tidak dipercepat dan efek dari percepatan seragam (tidak
inersia) kerangka acuan.
Artikel kedua pada subjek muncul pada tahun
1911, dan 1912 Einstein secara aktif bekerja untuk memahami sebuah teori
relativitas umum yang bisa menjelaskan relativitas khusus, tetapi juga akan
menjelaskan gravitasi sebagai fenomena geometris.
Pada tahun 1915, Einstein menerbitkan
serangkaian persamaan diferensial yang dikenal sebagai persamaan medan
Einstein. Relativitas umum Einstein menggambarkan alam semesta sebagai suatu
sistem geometris tiga ruang dan satu dimensi waktu. Kehadiran massa, energi,
dan momentum (kuantutasi secara kolektif sebagai kepadatan massa-energi atau
tekanan-energi) yang dihasilkan dalam tekukan sistem koordinat ruang-waktu.
Gravitasi, oleh karena itu, merupakan sebuah pergerakan sepanjang “sederhana”
atau paling tidak rute energetik sepanjang lengkungan ruang-waktu.
Bentuk Matematika Dari Relativitas Umum
Pada bentuk yang sederhana, dan menghilangan
matematika yang kompleks, Einstein menemukan hubungan antara kelengkungan
ruang-waktu dengan kerapatan massa-energi:
(Kelengkungan ruang-waktu) = (kerapatan
massa-energi)*8ยตG/c4
Persamaan tersebut menunjukkan hubungan
secara langsung, proporsional terhadap kontanta. Kontanta gravitasi G, berasal
dari hukum Newton untuk gravitasi, sementara ketergantungan terhadap kecepatan
cahaya, c, adalah berasal dari teori relativitas khusus.
Dalam kasus nol (atau mendekati nol) (yaitu
ruang hampa), ruang-waktu berbentuk datar. Gravitasi klasik adalah kasus khusus
untuk manifestasi gravitasi pada medan gravitasi lemah, dimana bentuk c4
(denominator yang sangat besar) dan G (nilai yang sangat kecil) membuat koreksi
kelengkungan kecil.
Sekali lagi, Einstein tidak tidak keluar dari
topik. Dia bekerja keras dengan geometri Riemannian (geometri non Euclidean
yang dikembangkan oleh matematikawan Bernhard Riemann beberapa tahun
sebelumnya), meskipun ruang yang dihasilkan adalah 4 dimensi Lorentzian
bermacam-macam daripada geometri Riemann ketat. Namun, karya Riemann sangat
penting bagi persamaan medan Einstein.
Apakah sebenarnya Relativitas Umum?
Untuk analogi relativitas umum, pertimbangkan
bahwa kamu membentangkan sebuah seprai atau suatu lembaran yang datar dan
elastik. Sekarang kamu meletakkan sesuatu dengan berat yang bervariasi pada
lembaran tersebut. Jika kita menempatkan sesuatu yang sangat ringan maka bentuk
seprai akan sedikit lebih turun sesuai dengan berat benda tersebut. Tetaoi jika
kamu meletakkan sesuatu yang berat, maka akan terjadi kelengkungan yang lebih
besar.
Asumsikan terdapat benda yang berat berada
pada lembaran tersebut, dan kamu meletakkan benda lain yang lebih ringan di
dekatnya. Kelengkungan yang diciptakan oleh benda yang lebih berat akan
menyebabkan benda yang lebih ringan “terpeleset” disepanjang kurva ke arah
kurva tersebut, karena benda yang lebih ringan mencoba untuk mencapai
keseimbangan sampai pada akhirnya benda tersebut tidak bergerak lagi (dalam
kasus ini, tentu saja terdapat pertimbangan lain, misalnya bentuk dari benda
tersebut, sebuah bola akan menggelinding, sedangkan kubus akan terperosot,
karena pengaruh gesekan atau semacamnya).
Hal ini serupa dengan bagaimana relativitas
umum menjelaskan gravitasi. Kelengkungan dari cahaya bukan karena beratnya,
tetapi kelengkungan yang diciptakan oleh benda berat lain yang membuat kita
tetap melayang di luar angkasa. Kelengkungan yang diciptakan oleh bumi membuat
bulan tetap bergerak sesuai dengan orbitnya, tetapi pada waktu yang sama,
kelengkungan yang diciptakan bulan cukup untuk mempengaruhi pasang surut air
laut.
Pembuktian Relativitas Umum
Semua temuan-temuan relativitas khusus juga
mendukung relativitas umum, karena teori-teori ini adalah konsisten.
Relativitas umum juga menjelaskan semua fenomena-fenomena mekanika klasik, yang
juga konsisten.
Selain itu, beberapa temuan mendukung
prediksi unik dari relaivitas umum:
Presisi dari perihelion Merkurius
Pembelokan gravitasi cahaya bintang
Pelebaran alam semesta (dalam bentuk
konstanta kosmologis)
Delay dari gema radar
Radiasi Hawking dari black hole
Prinsip-Prinsip Fundamental dari Relativitas
Prinsip umum relativitas: Hukum-hukum fisika
harus sama untuk setiap pengamat, terlepas dari mereka dipercepat atau tidak.
Prinsip kovarian umum: hukum-hukum fisika
harus memiliki bentuk yang sama dalam semua sistem koordinat.
Gerak Inersia adalah gerak geodesik: Garis
dunia dari partikel yang tidak terpengarus oleh gaya-gaya (yaitu gerak inersia)
adalah bakal waktu atau null geodesik dari ruang waktu. (ini berarti tangen
vektornya negatif atau nol.)
Invarian lokal Lorentz: aturan-aturan dari
relativitas khusus diaplikasikan secara lokal untuk semua pengamat inersia.
Lengkungan ruang-waktu: seperti yang
dijelaskan oleh persamaan medan Einstein, lengkungan ruang dan waktu, sebagai
responnya terhadap massa, energi, dan momentum menghasilkan pengaruh
gravitasional yang dilihat sebagai bentuk gerak inersia.
Prinsip ekuivalensi, di mana Albert Einstein
menggunakannya sebagai titik awal untuk relativitas umum, membuktikan
konsekuensinya terhadap prinsip-prinsip tersebut.
Relativitas Umum dan Konstanta Kosmologis
Pada 1922, para ilmuwan menemukan bahwa
aplikasi dari persamaan medan Einstein pada bidang kosmologi menghasilkan
perluasan alam semesta. Einstein percaya bahwa alam semesta itu statis (dan
karena itu pemikiran persamaannya menjadi salah), penambahan konstanta
kosmologis pada persamaan medan, yang memungkinkan hasil statis.
Edwin Hubble, pada 1929, menemukan bahwa
terdapat pergesaranmerah dari bintang-bintang jauh, yang menyiratkan bahwa
bintang-bintang itu bergerak terhadap bumi. Alam semesta tampaknya berkembang.
Einstein menghilangkan kontanta kosmologis dari persamaannya dan menyebutnya
sebagai kesalahan terbesar dalam karirnya.
Pada 1990, ketertarikan pada konstanta
kosmologis kembali ada dalam bentuk dark energy. Solusi untuk teori medan
kuantum telah menghasilkan sejumlah besar energi dalam ruang hampa kuantum yang
berakibat pada percepatan perluasan alam semesta.
Relativitas Umum dan Mekanika Kuantum
Ketika para fisikawan berupaya untuk
menerapkan teori medan kuantum pada medan gravitasi, hal-hal menjadi sangat
kacau. Pada betuk matematis, kuantitas fisis terjadi penyimpangan, atau hasil
yang tak terhingga. Medan gravitasi di bawah relativitas umum memerlukan
koreksi angka tak terhingga atau “renormalisasi”, konstanta-kontanta untuk
penyesaiannya ke dalam persamaan yang terpecahkan.
Upaya untuk memecahkan “masalah
renormalization” terletak di jantung teori kuantum gravitasi. Teori-teori
gravitasi kuantum biasanya bekerja mundur, meramalkan sebuah teori dan kemudian
mengujinya dan bukan benar-benar mencoba untuk menentukan konstanta yang tak
terbatas diperlukan. Ini trik lama dalam fisika, tapi sejauh ini tidak ada
teori telah cukup terbukti.
Beberapa Kontrovesi Lainnya
Masalah utama dengan relativitas umum, yang
telah sebaliknya sangat sukses, adalah keseluruhan ketidaksesuaian dengan
mekanika kuantum. Potongan besar teori fisika ditujukan ke arah mencoba untuk
menyamakan dua konsep: pertama yang memprediksi fenomena makroskopik melintasi
ruang dan kedua yang memprediksi fenomena mikroskopik, sering kali dalam ruang
yang lebih kecil daripada sebuah atom.
Selain itu, ada beberapa kekawatiran Einstein
yang sangat diperhatikan terhadap ruang-waktu. Apa itu ruang-waktu? Apakah hal
tesebut ada secara fisik? Beberapa telah memperkirakan “busa kuantum” yang
menyebar ke seluruh alam semesta. Usaha baru pada teori string (dan pada teori
anakannya) menggunakan ini atau penggambaran kuantum lain dari ruang-waktu.
Sebuah artikel dari majalah New Scientist meperkirakan bahwa ruang-waktu
mungkin adalah sebuah superfluida kuantum dan bahwa seluruh alam semesta dapat
berputas pada sumbu.
Beberapa orang telah menunjukkan bahwa jika
ruang-waktu sebagai substansi fisik, itu akan bertindak sebagai kerangka acuan
universal, seperti eter. Penganut Anti-relativitas sangat gembira mendengar
ini, sementara yang lain melihatnya sebagai upaya non ilmiah untuk
mendiskreditkan Enstein dengan membangkitkan sebuah konsep abad-mati.
Isu-isu tertentu dengan singularitas black
hole, di mana lengkung ruang-waktu mendekati pada tak terhingga, juga telah
menimbulkan keraguan apakah relativitas umum secara akurat dapat menggambarkan
alam semesta. Sangat sulit untuk diketahui secara pasti, bagaimanapun juga, selama
black hole hanya dapat dipelajari seperti saat ini.
Sampai ia berdiri sekarang, relativitas umum
adalah teori yang sangat sukses tetapi sangat sulit dibayangkan dan akan
merugikan banyak orang karena ketidakkonsistennya dan kontroversi sampai mucul
fenomena yang sangat bertentangan dengan prediksi dari teori.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
harap masukan komentar pesan dan saran di blog ini